Minggu, 15 Agustus 2010

CARBON BALI TRIP








WAT A TRIP!!
Yeeaaa.... empat hari di Bali
Everything's so fun, really had a great time. Bboyin, chillin, gettin a new friends. Took home the throphy, hit the club, meet the legend. All day all good. Nice people, nice scene, nice vibe. It culdn't be more perfect.
And im still thinkin bout that face....

WOW!!!!

ttp://bikaambon.multiply.com/journal/item/117



link itu adalah multiplynya Om Budiman Hakim, tokoh periklanan dan penulis favorit saya. Judul postingannya: 'Ngomong jorok malem2 lewat Twitter'. Jangan terlalu ngeres dulu baca judulnya, isinya soal gimana beliau dengan ajaibnya ketemu sama sosok cewek impiannya sejak kecil yang, dinamakannya Gina, lewat Twitter. Hampir sama dengan note yang saya bikin beberapa waktu lalu yang berittle: 'God Is a Designer'. Kebetulan dengan keajaiban kadang tipis bedanya.

Kamis, 12 Agustus 2010

WEN YU POLLING IN LAP

Orang gila tidak mungkin bisa jatuh cinta, tapi orang yang jatuh cinta bisa berbuat seperti orang gila.
Ya, jatuh cinta, hal yang paling sederhana sekaligus paling rumit yang bisa dialami oleh seorang manusia. Satu hal abstrak dan absurd yang seringkali bisa mendorong seseorang melampui batas-batas kekuatan dan logikanya, selain mendekatnya kematian. Bagaikan virus termutakhir yang bisa menyerang siapa saja kapan saja tanpa ampun dan tak bisa ditolak. Tak terdeteksi, saat kita menyadari keberadaannya virus itu telah menjalar dan menginfeksi tiap sel terkecil tubuh.
Jatuh cinta bisa membuat orang bertindak aneh, bodoh, nekat bahkan gila demi sang tercinta. Yang mungkin bagi orang lain tidak masuk akal atau berlebihan. Salah satu teman saya pernah berkata pada teman yang lain yang sedang bercerita bagaimana dia sedang naksir seorang cewek dan semua pengorbanannya untuk ngedapetin cewek itu: “Seharusnya lo gak perlu sampe segitunya, lo udah berkorban terlalu banyak buat cewek itu” Tapi dijawab oleh teman saya itu: “Gak ada kata ‘terlalu banyak’, ‘terlalu besar’ atau terlalu-terlalu yang lain buat orang yang lagi jatuh cinta”. Saya pun setuju banget dengan teman saya ini, bahkan yang dianggap ‘terlalu’ itupun kadang terasa belum cukup, dan mungkin takkan pernah cukup, untuk mereka yang sedang jatuh cinta. Orang yang sedang jatuh cinta akan melakukan apapun demi dia yang dipujanya. Mulai dari berusaha untuk mencari tahu segala sesuatu tentang si dia; siapa namanya, berapa nomer handphonenya, alamat facebooknya, apa hobinya, sampai semua detail-detail kecil tentang sang pujaan hati. Mereka juga akan melakukan berbagai macam cara untuk menarik perhatian si dia, dari hal-hali kecil seperti memberi perhatian lebih, meningkatkan intensitas komunikasi via telepon atau sms sampai hal-hal romantis bahkan sampai hal-hal ‘gila’ seperti dalam reality show “Katakan Cinta”.
Saya pernah melihat berbagai macam hal, beberapa terasa sangat ‘gila’ dan mencengangkan buat saya, yang dilakukan oleh orang-orang di sekitar saya (dan oleh saya sendiri) ketika mereka jatuh cinta. Ada teman saya yang rela naik motor menembus hujan sekedar untuk mengantarkan kue yang diinginkan cewek yang ditaksirnya, teman saya yang jago menggambar menuangkan perasaannya lewat gambar-gambar tangannya yang luar biasa bagusnya (menurut saya) karena tidak mampu mengungkapkan perasaannya secara langsung pada si cewek dan dinding kamarnya akhirnya dipenuhi kertas HVS berisi gambar-gambar curhatannya, teman saya yang lain menuliskan barisan-barisan lirik tentang wanita pujaannya yang akhirnya dipadukan dengan harmonisasi musik yang dirangkainya lewat software fruity loops di komputer dalam kamar kosnya, ya dia ciptakan lagu untuk cewek itu. Luar biasa. Beragam sekali cara yang dipakai orang untuk mengekspresikan rasa ketika jatuh cinta, sebagian orang mengungkapkannya dengan tindakan dan perkataan secara langsung, sebagian dengan gambar, sebagian dengan lagu dan sebagian lainnya mungkin dengan menuliskannya.
Buat orang lain yang melihat mungkin mereka yang sedang jatuh cinta itu bertingkah tak ubahnya seperti orang gila, atau mungkin bahkan beberapa dari kalian yang membaca tulisan ini juga berpikir seperti itu? Atau malah ada beberapa dari kalian yang belakangan ini sering merasakan tatapan aneh orang-orang di sekitar, seakan mereka sedang melihat seorang yang kurang waras? Hati-hati, mungkin anda sedang jatuh cinta.

GOD IS A DESIGNER

Dua tokoh utama di film CIN(T)A berkata lewat kaos yang mereka pakai: God is an architect (Tuhan adalah arsitek) dan God is a director (Tuhan adalah sutradara). Kalau saya punya versi sendiri, menurut saya God is a designer (Tuhan adalah desainer). Saya menganalogikan dengan merajuk pada seorang desainer grafis yang bekerja di sebuah perusahaan desain yang bertugas membuat desain-desain sesuai dengan pesanan klien. Dalam hal ini ‘klien’ Tuhan adalah saya dan ‘produk’nya adalah, ehem, wanita impian.
Seringkali saya menggambarkan sosok seorang wanita impian dalam ruang imajiner hampa di satu sudut otak saya, wanita dengan kriteria-kriteria (fisik maupun non-fisik) yang mungkin biasa-biasa saja untuk orang lain tapi mendekati sempurna bagi saya. Dan Tuhan dengan begitu sempurnanya menciptakan wanita itu, seperti merefleksikan sosok wanita khayalan di ruang imajinasi saya dalam bentuk yang nyata dan hidup. Dan lebih hebat dari desainer manapun di planet ini yang membuat desain sesuai dengan permintaan klien, Tuhan menciptakan sosok wanita impian itu tanpa sekalipun saya memohon kepadaNya, bahkan mungkin jauh sebelum saya membayangkan sosoknya Tuhan telah merencanakan untuk menciptakan ‘dia’ sedemikian rupa. Seperti belum puas melihat ketercengangan saya terhadap absolutisme daya ciptaNya, tidak saja Tuhan ciptakan ‘dia’ tapi dipertemukanNya juga saya dengan ‘dia’. ‘Dia’ begitu sesuai dengan sosok rekaan saya selama ini ketika Tuhan untuk pertama kali mempertemukan saya dengan ‘dia’, bahkan lengkap dengan sepatu Converse All Star low warna hitamnya. Dan selanjutnya saya hanya bisa menatap dan mengagumi ‘dia’ berbataskan jarak, yang sebenarnya hanya beberapa meter saja.
Tuhan telah memainkan peran sebagai desainer dengan luar biasa dan tanpa cela dalam fase kehidupan saya saat ini. Selanjutnya saya berharap Tuhan akan memainkan peranNya sebagai sutradara dengan sama hebatnya untuk membuatkan sebuah cerita indah yang sempurna, dengan pemeran utama, ehem, saya dan ‘dia’. Semoga

Senin, 07 Juni 2010

IDEA OR IDEAD?

Satu lagi quote yang inspiratif untuk saya:
IF YOU DON’T EXECUTE YOUR IDEAS, THEY DIE (Roger Van Oech)

Kutipan dari Roger Van Oech (seorang pengarang dan penceramah) diatas bagaikan palu yang memukul kepala saya dan membuat saya sadar atas apa yang terjadi pada diri saya selama ini: penyia-nyiaan ide. Tak terhitung berapa kali seringnya saya terinspirasi dari berbagai hal dan akhirnya memunculkan ide-ide dalam otak, beberapa diantaranya adalah ide-ide yang cukup bagus menurut kapasitas otak saya. Tapi tak terhitung juga seringnya saya menyia-nyiakan ide-ide itu, membiarkan ide-ide liar itu hanya hidup dalam bentuk imajiner tanpa ada realisasinya dan akhirnya ide-ide itu melemah dan mati sia-sia, terkubur tanpa sisa.

Saya baru sadar ternyata saya sering banget melakukan pembunuhan ide sendiri. Dan mungkin saya gak sendiri, mungkin banyak teman-teman dari dunia kreatif, yang notabene sangat akrab dengan ide-ide, merasakan dan mengalami hal serupa.

Kalo pengalaman saya pribadi sih halangan terbesar adalah rasa malas. Waktu satu ide datang, dalam pikiran kita dengan asyiknya merancang ini merancang itu, semua terasa ringan dan mengasyikan. Kareana kita cukup membayangkan saja, tidak perlu banyak tenaga, waktu dan biaya. Malah kadang ide-ide muncul tanpa kita rencanakan atau kita cari. Bahkan saya paling sering mendapat ide waktu naik motor sendirian sambil mendengarkan musik lewat MP4 player butut saya.
Lain lagi saat perealisasian ide itu. Saat akan mengeksekusi ide-ide itu dalam bentuk nyata kita mau tidak mau dipaksa untuk menyisihkan waktu, tenaga, pikiran dan mungkin biaya. Dan itulah yang sering bikin saya malas. Atau mungkin saya tidak punya cukup waktu, tenaga dan pikiran untuk disisihkan? Kurang tahu juga ya.
Menariknya, ide-ide yang timbul dari ketidaksengajaan atau keisengan yang saya realisasikan justru sering mendapat apresiasi yang positif. Ide-ide spontan sering lebih mengena. Beberapa waktu lalu saya bersama teman-teman mengadakan artwork exhibition di kampus. Dalam pameran itu saya mengikutsertakan dua artwork yang idenya berawal dari iseng dan spontanitas. Mengangkat dua hal yang saat itu (mungkin sampai saat ini) sedang in: Bahasa Alay dan Facebook. Idenya muncul begitu saja, tanpa brainstorming yang rumit. Saya bikinnya saja baru sehari sebelum batas pengumpulan karya. Hasilnya? Wow, tanpa saya duga banyak respon positif terhadap dua karya “iseng” saya itu.

Saya jadi berpikir, saya sering sekali dapat ide-ide spontan semacam itu. Bukan tidak mungkin kalo semua ide itu saya eksekusi akan bernasib baik seperti dua karya “iseng” saya tadi? Sudah cukup saya menjadi pembunuh, ya, pembunuh ide sendiri. Sekecil apapun ide itu, realisasikan, eksekusi. Walaupun kelihatannya itu adalah ide yang sederhana dan remeh temeh. Karena terkadang ide yang paling sederhana, dekat dengan kita dan membumi adalah ide yang paling jenius. Lagipula ide adalah anugerah bagi kita orang-orang kreatif. Kalau kita membunuh ide-ide kita sendiri apakah kita masih pantas menyandang predikat kreatif?

*ide untuk menulis tulisan ini sudah mendekam dalam kepala saya berminggu-minggu sebelum saya eksekusi. Hampir saja saya menjadi pembunuh lagi :p

REFLEKSI

Berdiri di hadapan, seorang remaja tanggung
Wajahnya sedingin dan sekaku dinding marmer
Dengan segaris senyum yang sarat dengan sinisme getir
Seakan ingin mengejek dunia beserta seluruh kontennya
Mengaku sebagai putra sekaligus korban globalisasi
Hasil intimnya hubungan kapitalisme dan modernisasi kota besar
Doktrin-doktrin keakuan ketat mengawalnya tumbuh dan berkembang
Ya, kesombongan adalah dosa favorit pilihannya
Matanya terlalu sibuk melihat mimpi masa depan yang dirancangnya sendiri
Gendang telinganya sudah terlalu penuh oleh Jay-Z dan Michael Jackson
Kakinya sibuk menarikan tarian urban beralaskan Converse All Star Classic
Atau santai melangkah di taman bermainnya yang bernama Super Mall
Tak peduli apa yang orang, atau bahkan mungkin malaikat katakan tentangnya
Tentang rekam jejak hidupnya yang sarat dengan attitude minor
Tapi sungguh dia adalah pencinta yang baik
Sama baiknya seperti saat dia memainkan peran antagonis sebagai pembenci
Romantisme bersembunyi dalam selaput wataknya yang sentimental
Empati masih terselip di belantara pekat dominasi egonya
Coba nikmati tiap degup ritme hidupnya
Nikmati glamornya kehidupan malam di Kemang
Hingga damainya rumah sederhana di garis tepi kota Solo
Ia pun teringat melankolia ditengah malam berhujan itu
Saat menyusuri kolong terowongan Casablanca
Ditemani redupnya deretan lampu jalan yang teatrikal
Dan dia berkata padaku: “Nikmati, pikirkan dan berkembanglah”
Sekejap aku tersadar ternyata aku sedang menatap cermin

PUISI PAGI JAKARTA

Terjaga lebih pagi dari matahari
Langkahkan kaki saat langit belum juga terang
Untuk pertarungan demi mencapai tempat penghidupan
Berlomba dengan detik waktu yang terasa makin mahal
Kotak-kotak besi bermesin berderet panjang
Seakan berbaris untuk menuju surga
Ditemani hangatnya berita koran pagi dan detik.com
Saat radio mentransmisi celoteh para penyiar kondang
Kepulan asap hitam meningkahi bising deru corong knalpot
Dan sumpah serapah pun menambah semaraknya pagi ini
Dalam pengapnya ruang sempit metromini dan kopaja
Atau dalam ruang transjakarta yang sedikit lebih nyaman
Berjejalnya spektrum warna warni penghuni metropolis
Mencoba membunuh bosan dengan caranya masing-masing
Gosip pagi hari para wanita karir,
Autisme massal ala Blackberry dan ipod,
Curhatan hati siswa-siswi berseragam,
Atau mencuri sedikit lelap diatas kursi plastik keras
Harmonisasi medley persembahan para musisi jalanan
Mungkin sedikit bisa menetralisasi stres tanggal tua
Jalan panjang dari pinggiran kota yang sedikit usang
Menuju koloni gedung pencakar langit di Sudirman
Refleksi kemegahan imperial seperti berucap selamat pagi
Salam bersahaja dari sombongnya gedung-gedung tinggi
Salam hangat dari sang Batavia yang congkak namun menyenangkan
Yang rasanya sulit untuk diabaikan oleh siapapun
Dan saat destinasi akhir pun akhirnya terlihat, meringkasi pagi
Satu pagi yang biasa di Jakarta