Satu lagi quote yang inspiratif untuk saya:
IF YOU DON’T EXECUTE YOUR IDEAS, THEY DIE (Roger Van Oech)
Kutipan dari Roger Van Oech (seorang pengarang dan penceramah) diatas bagaikan palu yang memukul kepala saya dan membuat saya sadar atas apa yang terjadi pada diri saya selama ini: penyia-nyiaan ide. Tak terhitung berapa kali seringnya saya terinspirasi dari berbagai hal dan akhirnya memunculkan ide-ide dalam otak, beberapa diantaranya adalah ide-ide yang cukup bagus menurut kapasitas otak saya. Tapi tak terhitung juga seringnya saya menyia-nyiakan ide-ide itu, membiarkan ide-ide liar itu hanya hidup dalam bentuk imajiner tanpa ada realisasinya dan akhirnya ide-ide itu melemah dan mati sia-sia, terkubur tanpa sisa.
Saya baru sadar ternyata saya sering banget melakukan pembunuhan ide sendiri. Dan mungkin saya gak sendiri, mungkin banyak teman-teman dari dunia kreatif, yang notabene sangat akrab dengan ide-ide, merasakan dan mengalami hal serupa.
Kalo pengalaman saya pribadi sih halangan terbesar adalah rasa malas. Waktu satu ide datang, dalam pikiran kita dengan asyiknya merancang ini merancang itu, semua terasa ringan dan mengasyikan. Kareana kita cukup membayangkan saja, tidak perlu banyak tenaga, waktu dan biaya. Malah kadang ide-ide muncul tanpa kita rencanakan atau kita cari. Bahkan saya paling sering mendapat ide waktu naik motor sendirian sambil mendengarkan musik lewat MP4 player butut saya.
Lain lagi saat perealisasian ide itu. Saat akan mengeksekusi ide-ide itu dalam bentuk nyata kita mau tidak mau dipaksa untuk menyisihkan waktu, tenaga, pikiran dan mungkin biaya. Dan itulah yang sering bikin saya malas. Atau mungkin saya tidak punya cukup waktu, tenaga dan pikiran untuk disisihkan? Kurang tahu juga ya.
Menariknya, ide-ide yang timbul dari ketidaksengajaan atau keisengan yang saya realisasikan justru sering mendapat apresiasi yang positif. Ide-ide spontan sering lebih mengena. Beberapa waktu lalu saya bersama teman-teman mengadakan artwork exhibition di kampus. Dalam pameran itu saya mengikutsertakan dua artwork yang idenya berawal dari iseng dan spontanitas. Mengangkat dua hal yang saat itu (mungkin sampai saat ini) sedang in: Bahasa Alay dan Facebook. Idenya muncul begitu saja, tanpa brainstorming yang rumit. Saya bikinnya saja baru sehari sebelum batas pengumpulan karya. Hasilnya? Wow, tanpa saya duga banyak respon positif terhadap dua karya “iseng” saya itu.
Saya jadi berpikir, saya sering sekali dapat ide-ide spontan semacam itu. Bukan tidak mungkin kalo semua ide itu saya eksekusi akan bernasib baik seperti dua karya “iseng” saya tadi? Sudah cukup saya menjadi pembunuh, ya, pembunuh ide sendiri. Sekecil apapun ide itu, realisasikan, eksekusi. Walaupun kelihatannya itu adalah ide yang sederhana dan remeh temeh. Karena terkadang ide yang paling sederhana, dekat dengan kita dan membumi adalah ide yang paling jenius. Lagipula ide adalah anugerah bagi kita orang-orang kreatif. Kalau kita membunuh ide-ide kita sendiri apakah kita masih pantas menyandang predikat kreatif?
*ide untuk menulis tulisan ini sudah mendekam dalam kepala saya berminggu-minggu sebelum saya eksekusi. Hampir saja saya menjadi pembunuh lagi :p
Senin, 07 Juni 2010
REFLEKSI
Berdiri di hadapan, seorang remaja tanggung
Wajahnya sedingin dan sekaku dinding marmer
Dengan segaris senyum yang sarat dengan sinisme getir
Seakan ingin mengejek dunia beserta seluruh kontennya
Mengaku sebagai putra sekaligus korban globalisasi
Hasil intimnya hubungan kapitalisme dan modernisasi kota besar
Doktrin-doktrin keakuan ketat mengawalnya tumbuh dan berkembang
Ya, kesombongan adalah dosa favorit pilihannya
Matanya terlalu sibuk melihat mimpi masa depan yang dirancangnya sendiri
Gendang telinganya sudah terlalu penuh oleh Jay-Z dan Michael Jackson
Kakinya sibuk menarikan tarian urban beralaskan Converse All Star Classic
Atau santai melangkah di taman bermainnya yang bernama Super Mall
Tak peduli apa yang orang, atau bahkan mungkin malaikat katakan tentangnya
Tentang rekam jejak hidupnya yang sarat dengan attitude minor
Tapi sungguh dia adalah pencinta yang baik
Sama baiknya seperti saat dia memainkan peran antagonis sebagai pembenci
Romantisme bersembunyi dalam selaput wataknya yang sentimental
Empati masih terselip di belantara pekat dominasi egonya
Coba nikmati tiap degup ritme hidupnya
Nikmati glamornya kehidupan malam di Kemang
Hingga damainya rumah sederhana di garis tepi kota Solo
Ia pun teringat melankolia ditengah malam berhujan itu
Saat menyusuri kolong terowongan Casablanca
Ditemani redupnya deretan lampu jalan yang teatrikal
Dan dia berkata padaku: “Nikmati, pikirkan dan berkembanglah”
Sekejap aku tersadar ternyata aku sedang menatap cermin
Wajahnya sedingin dan sekaku dinding marmer
Dengan segaris senyum yang sarat dengan sinisme getir
Seakan ingin mengejek dunia beserta seluruh kontennya
Mengaku sebagai putra sekaligus korban globalisasi
Hasil intimnya hubungan kapitalisme dan modernisasi kota besar
Doktrin-doktrin keakuan ketat mengawalnya tumbuh dan berkembang
Ya, kesombongan adalah dosa favorit pilihannya
Matanya terlalu sibuk melihat mimpi masa depan yang dirancangnya sendiri
Gendang telinganya sudah terlalu penuh oleh Jay-Z dan Michael Jackson
Kakinya sibuk menarikan tarian urban beralaskan Converse All Star Classic
Atau santai melangkah di taman bermainnya yang bernama Super Mall
Tak peduli apa yang orang, atau bahkan mungkin malaikat katakan tentangnya
Tentang rekam jejak hidupnya yang sarat dengan attitude minor
Tapi sungguh dia adalah pencinta yang baik
Sama baiknya seperti saat dia memainkan peran antagonis sebagai pembenci
Romantisme bersembunyi dalam selaput wataknya yang sentimental
Empati masih terselip di belantara pekat dominasi egonya
Coba nikmati tiap degup ritme hidupnya
Nikmati glamornya kehidupan malam di Kemang
Hingga damainya rumah sederhana di garis tepi kota Solo
Ia pun teringat melankolia ditengah malam berhujan itu
Saat menyusuri kolong terowongan Casablanca
Ditemani redupnya deretan lampu jalan yang teatrikal
Dan dia berkata padaku: “Nikmati, pikirkan dan berkembanglah”
Sekejap aku tersadar ternyata aku sedang menatap cermin
PUISI PAGI JAKARTA
Terjaga lebih pagi dari matahari
Langkahkan kaki saat langit belum juga terang
Untuk pertarungan demi mencapai tempat penghidupan
Berlomba dengan detik waktu yang terasa makin mahal
Kotak-kotak besi bermesin berderet panjang
Seakan berbaris untuk menuju surga
Ditemani hangatnya berita koran pagi dan detik.com
Saat radio mentransmisi celoteh para penyiar kondang
Kepulan asap hitam meningkahi bising deru corong knalpot
Dan sumpah serapah pun menambah semaraknya pagi ini
Dalam pengapnya ruang sempit metromini dan kopaja
Atau dalam ruang transjakarta yang sedikit lebih nyaman
Berjejalnya spektrum warna warni penghuni metropolis
Mencoba membunuh bosan dengan caranya masing-masing
Gosip pagi hari para wanita karir,
Autisme massal ala Blackberry dan ipod,
Curhatan hati siswa-siswi berseragam,
Atau mencuri sedikit lelap diatas kursi plastik keras
Harmonisasi medley persembahan para musisi jalanan
Mungkin sedikit bisa menetralisasi stres tanggal tua
Jalan panjang dari pinggiran kota yang sedikit usang
Menuju koloni gedung pencakar langit di Sudirman
Refleksi kemegahan imperial seperti berucap selamat pagi
Salam bersahaja dari sombongnya gedung-gedung tinggi
Salam hangat dari sang Batavia yang congkak namun menyenangkan
Yang rasanya sulit untuk diabaikan oleh siapapun
Dan saat destinasi akhir pun akhirnya terlihat, meringkasi pagi
Satu pagi yang biasa di Jakarta
Langkahkan kaki saat langit belum juga terang
Untuk pertarungan demi mencapai tempat penghidupan
Berlomba dengan detik waktu yang terasa makin mahal
Kotak-kotak besi bermesin berderet panjang
Seakan berbaris untuk menuju surga
Ditemani hangatnya berita koran pagi dan detik.com
Saat radio mentransmisi celoteh para penyiar kondang
Kepulan asap hitam meningkahi bising deru corong knalpot
Dan sumpah serapah pun menambah semaraknya pagi ini
Dalam pengapnya ruang sempit metromini dan kopaja
Atau dalam ruang transjakarta yang sedikit lebih nyaman
Berjejalnya spektrum warna warni penghuni metropolis
Mencoba membunuh bosan dengan caranya masing-masing
Gosip pagi hari para wanita karir,
Autisme massal ala Blackberry dan ipod,
Curhatan hati siswa-siswi berseragam,
Atau mencuri sedikit lelap diatas kursi plastik keras
Harmonisasi medley persembahan para musisi jalanan
Mungkin sedikit bisa menetralisasi stres tanggal tua
Jalan panjang dari pinggiran kota yang sedikit usang
Menuju koloni gedung pencakar langit di Sudirman
Refleksi kemegahan imperial seperti berucap selamat pagi
Salam bersahaja dari sombongnya gedung-gedung tinggi
Salam hangat dari sang Batavia yang congkak namun menyenangkan
Yang rasanya sulit untuk diabaikan oleh siapapun
Dan saat destinasi akhir pun akhirnya terlihat, meringkasi pagi
Satu pagi yang biasa di Jakarta
Rabu, 31 Maret 2010
LAKI-LAKI VS WANITA
Sering saya dengar para laki-laki mengeluh: “Dasar cewek, dimana-mana emang kayak gitu, bisanya nyakitin!”, sama dengan seringnya saya mendengar para wanita mengatakan: “Namanya juga cowok, semua sama aja, brengsek!”. Sepertinya mereka amat sangat membenci satu sama lain. Tapi disaat yang sama mereka juga saling membutuhkan. Membingungkan. Tapi itulah, manusia (termasuk saya) adalah makhluk yang sangat kompleks dan membingungkan, tapi juga sekaligus merupakan makhluk yang sangat simple dan mudah dimengerti. Bagaimana bisa? Manusia menjadi makhluk yang luar biasa sulit dipahami kalau kita belum bisa mengerti apa dan bagaimana yang terdapat dalam hati dan otak seorang manusia, sebaliknya kalau kita sudah memegang kunci dan membuka pintu lalu bisa melihat dengan jelas apa yang sesungguhnya yang ada dalam hati dan otak seorang manusia, maka dia akan menjelma menjadi makhluk yang luar biasa sederhana dan mudah dimengerti.
Kodrat membagi manusia menjadi dua: Laki-laki dan wanita. Masing-masing mempunyai karakteristik yang sangat berbeda, bertolak belakang tapi saling melengkapi. Ini salah satu bukti kebesaran Tuhan, kok bisa ya Beliau menciptakan dua hal yang bertentangan tapi melengkapi?
Saya mencoba mengupas dan “menelanjangi” apa dan bagaimana laki-laki dan wanita itu, khususnya dalam cara pandang terhadap lawan jenis dan suatu hubungan, menurut pengalaman dan pendapat saya.
LAKI-LAKI
Saya mulai dari laki-laki, karena saya termasuk salah satu diantara mereka jadi saya lebih paham. Hal yang paling mendasar adalah: laki-laki adalah makhluk yang sangat berdasar pada logika dan realita daripada perasaan. Dalam hal apapun, termasuk percintaan. Mungkin karena kodratnya laki-laki memegang peran sebagai pemimpin dan seorang pemimpin harus memimpin berdasarkan realita yang ada untuk kemudian menghadapinya dengan tindakan-tindakan logis dan taktis. Jadi untuk para wanita harap dimengerti bahwa cara pandang seorang laki-laki terhadap suatu hal sering bertolak belakang dengan anda, yang lebih mengutamakan kehalusan dan sensitifitas perasaan, yang kadang membuat kami para kaum adam sering terlihat bertindak kejam, egois, semena-mena, brengsek atau apapun sebutannya bagi para wanita, tapi harus diakui bahwa sering tindakan “kejam” itulah jalan terbaik bagi suatu permasalahan. Realita tidak selalu menyediakan keindahan seperti dalam dongeng, nona.
Yang kedua, laki-laki adalah makhluk yang lebih menyukai kesederhanaan dan menghindari keruwetan. Coba tanyakan pada seratus orang pria: pilih candle light dinner romantis memakai pakaian super rapi seperti anggota kerajaan Inggris lengkap dengan table manner penuh sopan santun atau makan malam dirumah yang santai penuh canda dengan pakaian casual rapi tapi sopan? Pasti lebih dari 80% akan memilih yang kedua. Contoh lain: seorang calon mempelai pria pasti tidak akan seantusias pasangannya dalam mempersiapkan detail-detail pernikahannya, bahkan mungkin lebih memilih menggunakan jasa Wedding Organizer. Karena apa? Karena laki-laki tidak terlalu suka bersentuhan dengan hal-hal ruwet. Kalau ada laki-laki yang memilih candle light dinner (pada pertanyaan pertama) alasannya hanya ada dua: dia memang seorang laki-laki super romantis atau dia hanya ingin menyenangkan pasangannya.
Sifat alami lainnya dari seorang laki-laki: laki-laki adalah makhluk visual. Maksudnya, laki-laki sangat menilai dari apa yang tampak. Ini juga yang kadang menbuat laki-laki terlihat “brengsek” di mata para kaum hawa. Misal: ada seorang wanita cantik dengan bentuk badan sempurna ala Megan Fox plus fashion paling terkini nan sexy melintas pasti semua mata kaum adam disekitar langsung tertuju padanya. Kami, para lelaki adalah pencinta keindahan, terutama ciptaan Tuhan, wanita cantik salah satunya . Tapi bukan berarti laki-laki tidak punya perasaan dan tidak menghargai kepribadian seorang wanita. Yang saya bicarakan tadi adalah kesan pertama dan spontan saja. Hampir mustahil ada seorang laki-laki jatuh cinta pada pandangan pertama pada kepribadian seorang wanita yang berpenampilan kurang menarik, kecuali wanita itu adalah pewaris tunggal perusahaan multinasional dengan aset jutaan dolar. Maka, para wanita, kalau ingin menarik perhatian pria, berpenampilan lah semenarik mungkin. That sounds like men are jerk, but that’s the fact.
Cukup dengan laki-laki, bagaimana dengan para wanita? Ini berdasarkan pengamatan saya dan rangkuman dari curhatan teman-teman wanita saya yang saya tarik kesimpulannya.
WANITA
Yang sudah menjadi rahasia umum tapi masih sering susah dipahami oleh para pria dari sesosok wanita adalah: wanita adalah makhluk yang bertindak berdasarkan perasaannya yang dominan daripada logika rasionalnya. Memang banyak wanita yang menyangkal sendiri hal ini, tapi hadapilah, itu takdir para kaum hawa. Hal inilah yang sering jadi penyebab beda pendapat antara laki-laki dan wanita dalam memandang suatu hal, laki-laki berpegang pada logika sedangkan wanita berdasarkan perasaan.
Yang kedua, wanita adalah makhluk yang sangat ingin dimengerti. Untuk para laki-laki, ketahuilah, wanita sangat suka bila pasangannya mengerti apa yang dimauinya tanpa mereka mengatakannya. Contoh sederhana: bila mereka lapar dan ingin makan, akan kecil kemungkinan seorang wanita mengatakan dengan blak-blakan “Aku laper ni, makan yuk”, mereka lebih suka diam dan menunggu kita mengatakan “Makan yuk, udah jam segini, kamu kan belum makan pasti udah laper”. Kesannya kita tahu apa yang mereka inginkan tanpa mereka bilang, padahal mungkin kita hanya berpikir dengan logika kita bahwa sudah masuk jam makan dan pasti dia sama laparnya dengan kita. Kemampuan membaca situasi seperti ini kadang memang susah-susah gampang, tapi semua laki-laki pasti mempunyai naluri semacam ini. Coba biasakan dari hal-hal kecil seperti contoh makan diatas, lama-lama kita akan terlatih dan terbiasa mengerti wanita untuk lalu memenuhi apa yang mereka butuhkan atau inginkan, tanpa mereka katakan lebih dulu.
Berikutnya, wanita sangat menyukai pujian, bahkan sedikit kebohongan. Pujilah mereka sesering mungkin, tapi jangan berlebihan, istilahnya yang “pas”. Misal: pasangan kita memakai baju baru yang lebih terkesan casual dan mature dari biasanya, maka pujilah: “kamu keliatan dewasa lho pake baju itu”. Niscaya si wanita akan berbunga-bunga hatinya. Karena kita mengatakan apa yang benar-benar ingin didengarnya, bahwa dia terlihat dewasa dengan baju barunya itu. Atau misalnya ada wanita yang jelas-jelas lebih cantik dari pasangan kita, lalu pasangan kita bertanya: “Aku sama dia (menunjuk cewek itu) cantikan mana?”, kalau kita jawab “Ya cantikan dia lah” pasti kita akan disambut dengan wajah jutek, kata-kata makian,bahkan bukan tidak mungkin sebuah tamparan dari pasangan kita. Coba jawab dengan: “Dia cantik sih, tapi kalo menurut aku sih kamu paling cantik”. Gombal memang tapi efektif untuk bikin pasangan kita tersenyum. Padahal pasangan kita juga tahu pasti si cewek yang lewat itu lebih cantik
Yah, begitu lah kira-kira pandangan saya. Tapi saya juga bisanya cuma ngomong aja sih, buktinya saya juga sering ditolak cewek dan sampai sekarang masih sering berantem sama pacar saya hehehehe….,,
Cheers and beers!!
*ATTENTION. Tulisan ini hanyalah ugkapan pemikiran belaka. Jangan menganggap tulisan ini serius apalagi menjadikannya pedoman dalam percintaan. Karena tulisan ini ditulis oleh seorang love loser sejati.
Kodrat membagi manusia menjadi dua: Laki-laki dan wanita. Masing-masing mempunyai karakteristik yang sangat berbeda, bertolak belakang tapi saling melengkapi. Ini salah satu bukti kebesaran Tuhan, kok bisa ya Beliau menciptakan dua hal yang bertentangan tapi melengkapi?
Saya mencoba mengupas dan “menelanjangi” apa dan bagaimana laki-laki dan wanita itu, khususnya dalam cara pandang terhadap lawan jenis dan suatu hubungan, menurut pengalaman dan pendapat saya.
LAKI-LAKI
Saya mulai dari laki-laki, karena saya termasuk salah satu diantara mereka jadi saya lebih paham. Hal yang paling mendasar adalah: laki-laki adalah makhluk yang sangat berdasar pada logika dan realita daripada perasaan. Dalam hal apapun, termasuk percintaan. Mungkin karena kodratnya laki-laki memegang peran sebagai pemimpin dan seorang pemimpin harus memimpin berdasarkan realita yang ada untuk kemudian menghadapinya dengan tindakan-tindakan logis dan taktis. Jadi untuk para wanita harap dimengerti bahwa cara pandang seorang laki-laki terhadap suatu hal sering bertolak belakang dengan anda, yang lebih mengutamakan kehalusan dan sensitifitas perasaan, yang kadang membuat kami para kaum adam sering terlihat bertindak kejam, egois, semena-mena, brengsek atau apapun sebutannya bagi para wanita, tapi harus diakui bahwa sering tindakan “kejam” itulah jalan terbaik bagi suatu permasalahan. Realita tidak selalu menyediakan keindahan seperti dalam dongeng, nona.
Yang kedua, laki-laki adalah makhluk yang lebih menyukai kesederhanaan dan menghindari keruwetan. Coba tanyakan pada seratus orang pria: pilih candle light dinner romantis memakai pakaian super rapi seperti anggota kerajaan Inggris lengkap dengan table manner penuh sopan santun atau makan malam dirumah yang santai penuh canda dengan pakaian casual rapi tapi sopan? Pasti lebih dari 80% akan memilih yang kedua. Contoh lain: seorang calon mempelai pria pasti tidak akan seantusias pasangannya dalam mempersiapkan detail-detail pernikahannya, bahkan mungkin lebih memilih menggunakan jasa Wedding Organizer. Karena apa? Karena laki-laki tidak terlalu suka bersentuhan dengan hal-hal ruwet. Kalau ada laki-laki yang memilih candle light dinner (pada pertanyaan pertama) alasannya hanya ada dua: dia memang seorang laki-laki super romantis atau dia hanya ingin menyenangkan pasangannya.
Sifat alami lainnya dari seorang laki-laki: laki-laki adalah makhluk visual. Maksudnya, laki-laki sangat menilai dari apa yang tampak. Ini juga yang kadang menbuat laki-laki terlihat “brengsek” di mata para kaum hawa. Misal: ada seorang wanita cantik dengan bentuk badan sempurna ala Megan Fox plus fashion paling terkini nan sexy melintas pasti semua mata kaum adam disekitar langsung tertuju padanya. Kami, para lelaki adalah pencinta keindahan, terutama ciptaan Tuhan, wanita cantik salah satunya . Tapi bukan berarti laki-laki tidak punya perasaan dan tidak menghargai kepribadian seorang wanita. Yang saya bicarakan tadi adalah kesan pertama dan spontan saja. Hampir mustahil ada seorang laki-laki jatuh cinta pada pandangan pertama pada kepribadian seorang wanita yang berpenampilan kurang menarik, kecuali wanita itu adalah pewaris tunggal perusahaan multinasional dengan aset jutaan dolar. Maka, para wanita, kalau ingin menarik perhatian pria, berpenampilan lah semenarik mungkin. That sounds like men are jerk, but that’s the fact.
Cukup dengan laki-laki, bagaimana dengan para wanita? Ini berdasarkan pengamatan saya dan rangkuman dari curhatan teman-teman wanita saya yang saya tarik kesimpulannya.
WANITA
Yang sudah menjadi rahasia umum tapi masih sering susah dipahami oleh para pria dari sesosok wanita adalah: wanita adalah makhluk yang bertindak berdasarkan perasaannya yang dominan daripada logika rasionalnya. Memang banyak wanita yang menyangkal sendiri hal ini, tapi hadapilah, itu takdir para kaum hawa. Hal inilah yang sering jadi penyebab beda pendapat antara laki-laki dan wanita dalam memandang suatu hal, laki-laki berpegang pada logika sedangkan wanita berdasarkan perasaan.
Yang kedua, wanita adalah makhluk yang sangat ingin dimengerti. Untuk para laki-laki, ketahuilah, wanita sangat suka bila pasangannya mengerti apa yang dimauinya tanpa mereka mengatakannya. Contoh sederhana: bila mereka lapar dan ingin makan, akan kecil kemungkinan seorang wanita mengatakan dengan blak-blakan “Aku laper ni, makan yuk”, mereka lebih suka diam dan menunggu kita mengatakan “Makan yuk, udah jam segini, kamu kan belum makan pasti udah laper”. Kesannya kita tahu apa yang mereka inginkan tanpa mereka bilang, padahal mungkin kita hanya berpikir dengan logika kita bahwa sudah masuk jam makan dan pasti dia sama laparnya dengan kita. Kemampuan membaca situasi seperti ini kadang memang susah-susah gampang, tapi semua laki-laki pasti mempunyai naluri semacam ini. Coba biasakan dari hal-hal kecil seperti contoh makan diatas, lama-lama kita akan terlatih dan terbiasa mengerti wanita untuk lalu memenuhi apa yang mereka butuhkan atau inginkan, tanpa mereka katakan lebih dulu.
Berikutnya, wanita sangat menyukai pujian, bahkan sedikit kebohongan. Pujilah mereka sesering mungkin, tapi jangan berlebihan, istilahnya yang “pas”. Misal: pasangan kita memakai baju baru yang lebih terkesan casual dan mature dari biasanya, maka pujilah: “kamu keliatan dewasa lho pake baju itu”. Niscaya si wanita akan berbunga-bunga hatinya. Karena kita mengatakan apa yang benar-benar ingin didengarnya, bahwa dia terlihat dewasa dengan baju barunya itu. Atau misalnya ada wanita yang jelas-jelas lebih cantik dari pasangan kita, lalu pasangan kita bertanya: “Aku sama dia (menunjuk cewek itu) cantikan mana?”, kalau kita jawab “Ya cantikan dia lah” pasti kita akan disambut dengan wajah jutek, kata-kata makian,bahkan bukan tidak mungkin sebuah tamparan dari pasangan kita. Coba jawab dengan: “Dia cantik sih, tapi kalo menurut aku sih kamu paling cantik”. Gombal memang tapi efektif untuk bikin pasangan kita tersenyum. Padahal pasangan kita juga tahu pasti si cewek yang lewat itu lebih cantik
Yah, begitu lah kira-kira pandangan saya. Tapi saya juga bisanya cuma ngomong aja sih, buktinya saya juga sering ditolak cewek dan sampai sekarang masih sering berantem sama pacar saya hehehehe….,,
Cheers and beers!!
*ATTENTION. Tulisan ini hanyalah ugkapan pemikiran belaka. Jangan menganggap tulisan ini serius apalagi menjadikannya pedoman dalam percintaan. Karena tulisan ini ditulis oleh seorang love loser sejati.
Senin, 29 Maret 2010
THANK YOU
For very first time I would say thanks to my family
Satu keluarga kecil bahagia yang selalu kusayangi
Empat hati dalam kasih kita selalu berpadu
Bersama Ayah, Ibu dan satu adik kecilku
Di rumah sederhana di pinggiran Jakarta Selatan
Kita berbagi cerita dan duka. Ciptakan kehangatan
Ayah, kau pimpin perahu kecil ini tuk sampai ke tujuan
Kau ajarkanku banyak hal dalam hidup sebagai titik acuan
Ibu selalu siramiku dengan kasih tanpa batas
Rasa sayang tulus yang kerap tak dapat ku balas
Adik, satu darah kita berjalan seiring seirama
Ku coba tuntun langkahmu dalam hidup yang nyata
Roda hidup berputar tak selalu ada di atas
Bergandeng tangan kita lewati cobaan hidup yang keras
Bersinergi perlahan kita naik dengan merangkak
I know we can. Dan akhirnya kita kan sampai ke puncak
I wrote second verse just for my queen, my true lady
Your love in my time that always inspires me
Jika kau ratu aku yang akan jadi raja
Kan kita buat kerajaan kecil bernama keluarga
Walau kadang hati kita berbatas jarak
Jogjakarta, Solo, Jakarta dimana kaki berpijak
Saling percaya dan menjaga, itu yang utama
Kata janji dalam hati selalu di urutan pertama
Pernah rasa tulusmu dengan kejam kudustai
Pernah janji setia itu dengan sadar kunodai
Tapi selalu kau buka dengan lebar sebuah pintu maaf
I know my “sorry” and “thank you” are not enough
Banyak rintangan yang buat hati nyaris terbunuh mati
Tak terhitung tembok tinggi yang telah kita berdua lompati
Di atas langit-langit tinggi kita letakkan mimpi
Menunggu kita tuk menggapainya di suatu saat nanti
Last but not least, trima kasihku untuk semua sahabat
Dan tak lupa kujabat tanganmu erat wahai sobat
Untuk semua tawa lepas yang kerap terurai
Atau untuk air mata yang tak jarang berurai
Saat dunia gelap seakan bosan untuk bercahaya
Saat nasib baik seperti enggan untuk menyapa
Kalian ciptakan sedikit ruang untuk tempatku bercerita
Tentang kelamnya hari atau tragisnya kisah cinta
Habiskan waktu bersama dengan menghina dunia
Menganggap diri bagaikan manusia paling sempurna
Ketika kujatuh tertunduk kau angkat kepalaku tegak
Wujud empati lewat sebuah tepukan di pundak
Sebaris kata yang terucap cukup tuk kembangkan senyum
Dalam kata “teman” semua rasa itu terangkum
Satu keluarga kecil bahagia yang selalu kusayangi
Empat hati dalam kasih kita selalu berpadu
Bersama Ayah, Ibu dan satu adik kecilku
Di rumah sederhana di pinggiran Jakarta Selatan
Kita berbagi cerita dan duka. Ciptakan kehangatan
Ayah, kau pimpin perahu kecil ini tuk sampai ke tujuan
Kau ajarkanku banyak hal dalam hidup sebagai titik acuan
Ibu selalu siramiku dengan kasih tanpa batas
Rasa sayang tulus yang kerap tak dapat ku balas
Adik, satu darah kita berjalan seiring seirama
Ku coba tuntun langkahmu dalam hidup yang nyata
Roda hidup berputar tak selalu ada di atas
Bergandeng tangan kita lewati cobaan hidup yang keras
Bersinergi perlahan kita naik dengan merangkak
I know we can. Dan akhirnya kita kan sampai ke puncak
I wrote second verse just for my queen, my true lady
Your love in my time that always inspires me
Jika kau ratu aku yang akan jadi raja
Kan kita buat kerajaan kecil bernama keluarga
Walau kadang hati kita berbatas jarak
Jogjakarta, Solo, Jakarta dimana kaki berpijak
Saling percaya dan menjaga, itu yang utama
Kata janji dalam hati selalu di urutan pertama
Pernah rasa tulusmu dengan kejam kudustai
Pernah janji setia itu dengan sadar kunodai
Tapi selalu kau buka dengan lebar sebuah pintu maaf
I know my “sorry” and “thank you” are not enough
Banyak rintangan yang buat hati nyaris terbunuh mati
Tak terhitung tembok tinggi yang telah kita berdua lompati
Di atas langit-langit tinggi kita letakkan mimpi
Menunggu kita tuk menggapainya di suatu saat nanti
Last but not least, trima kasihku untuk semua sahabat
Dan tak lupa kujabat tanganmu erat wahai sobat
Untuk semua tawa lepas yang kerap terurai
Atau untuk air mata yang tak jarang berurai
Saat dunia gelap seakan bosan untuk bercahaya
Saat nasib baik seperti enggan untuk menyapa
Kalian ciptakan sedikit ruang untuk tempatku bercerita
Tentang kelamnya hari atau tragisnya kisah cinta
Habiskan waktu bersama dengan menghina dunia
Menganggap diri bagaikan manusia paling sempurna
Ketika kujatuh tertunduk kau angkat kepalaku tegak
Wujud empati lewat sebuah tepukan di pundak
Sebaris kata yang terucap cukup tuk kembangkan senyum
Dalam kata “teman” semua rasa itu terangkum
WE ARE THE WORLD
We are the world, We are the children
We are the ones who make a brighter day, So lets start giving
There’s a choice we’re making, we’re saving our own lives
It’s true we’ll make a better day. Just you and me.
Barisan kata diatas adalah sepotong bait, bagian reffrain tepatnya, dari lagu We Are The World milik mendiang Michael Jackson yang juga ditulis sendiri oleh king of pop, satu lagu harapan untuk dunia yang jauh lebih baik dan tentang indahnya berbagi dengan sesama. Satu wujud nyata sisi humanisme yang begitu besar dari seorang Michael Jackson. Salah satu dari sekian banyak warisan terbaik yang ditinggalkan sang raja untuk dunia.
Warisan yang sebenar-benarnya selalu bermanfaat bagi para pewarisnya. Begitu juga dengan lagu ini, sekali lagi memberi arti bagi para pewarisnya: seluruh warga dunia.
13 Januari 2010, gempa dahsyat berkekuatan 7 skala richter mengguncang dan memporak porandakan Haiti, lebih dari 200 ribu jiwa menjadi korban, dan dunia pun berduka.
Sebagian besar warga bumi berusaha berbuat dengan yang mereka bisa untuk meringankan beban Haiti, sekecil apapun itu. Seperti tak mau kalah, lagu We Are The World pun “berbuat”, melalui 25 penyanyi kaliber dunia yang sangat peduli terhadap bencana Haiti, semisal: Usher, Celine Dion, Fergie, Will.I.Am, Adam Levine dan rapper Snoop Dogg. Barisan penyanyi paling terkenal di kolong langit ini bersama-sama menyanyikan lagu We Are The World ,dengan beberapa modifikasi pada liriknya, sebagai bentuk dukungan bagi korban gempa Haiti sekaligus mengajak orang di seluruh dunia untuk ikut membantu para korban gempa Haiti.
Salah satu cara paling efektif untuk menyentuh hati seorang manusia adalah dengan seni, salah satunya lewat lagu. Dan lagu We Are The World adalah salah satu lagu yang bisa dengan hampir sempurna menyentuh hati dan menggerakan sisi kemanusiaan seorang manusia, yang kadang sekaku dan sedingin es. Dengan rangkaian melodi harmonis yang menyayat sekaligus mendamaikan hati bagi yang mendengarnya, membungkus indah pesan mulia tentang kemanusiaan yang ingin disampaikan lewat barisan liriknya:
We are all a part of God’s great big family
And the truth, you know love is all we need
Satu pesan penting yang ingin disampaikan: bahwa kita semua di seluruh dunia adalah satu keluarga besar, semua sama sebagai ciptaanNya. Dan seakan mengingatkan kita bahwa yang paling dibutuhkan melebihi segalanya untuk terciptanya dunia yang lebih baik adalah cinta, sebuah anugerah yang dikaruniakan kepada tiap manusia di bumi tetapi kadang terlupakan dan terabaikan oleh manusia itu sendiri. Sebuah pesan yang universal, tanpa membedakan negara, warna kulit atau religi. Dengan dua bait lirik diatas lagu ini berhasil menembus batas-batas nasionalis, kesukuan, rasis dan bahkan agama, batas-batas yang sukar ditembus oleh senjata paling mematikan di dunia sekalipun.
Send them your heart. So they’ll know that someone cares
And their lives will be stronger and free
Pesan tentang indahnya berbagi dengan sesama. Karena sesungguhnya berbagi adalah salah satu hal terbaik yang bisa dilakukan seorang manusia terhadap manusia lainnya dan dirinya sendiri. Baik untuk si pemberi atau si penerima. Untuk si pengulur tangan, akan merasakan indahnya rasa empati dan kebahagiaan tak terkira ketika mengetahui bahwa tindakannya ternyata sangat berarti bagi sesamanya, bahkan menyelamatkan hidup mereka. Bagi mereka yang menerima, selain akan menerima bantuan yang mereka butuhkan yang tidak kalah berartinya adalah saat mereka menyadari ternyata banyak orang diluar sana yang peduli akan keadaan mereka yang sedang terpuruk, dan bukan tidak mungkin rasa kepedulian itulah yang akan menumbuh kembangkan kekuatan dan mempersatukan kembali puing-puing semangat hidup mereka yang ambruk untuk bangkit dari keterpurukan dan menata kembali kehidupan mereka menjadi lebih baik.
We Are The World. Satu karya seni yang universal. Sebuah warisan dunia yang abadi bahkan untuk generasi-generasi setelah ini. Lagu yang dijuluki “World Humanity Anthem”. Semoga juga bisa ‘sedikit’ menggugah hati kita semua.
*coba dengarkan dengan cermat We Are The World versi 25 Artists for Haiti. Nama Indonesia disebutkan satu kali pada akhir lagu. Bukti nyata bahwa mereka juga peduli dengan bangsa kita.
We are the ones who make a brighter day, So lets start giving
There’s a choice we’re making, we’re saving our own lives
It’s true we’ll make a better day. Just you and me.
Barisan kata diatas adalah sepotong bait, bagian reffrain tepatnya, dari lagu We Are The World milik mendiang Michael Jackson yang juga ditulis sendiri oleh king of pop, satu lagu harapan untuk dunia yang jauh lebih baik dan tentang indahnya berbagi dengan sesama. Satu wujud nyata sisi humanisme yang begitu besar dari seorang Michael Jackson. Salah satu dari sekian banyak warisan terbaik yang ditinggalkan sang raja untuk dunia.
Warisan yang sebenar-benarnya selalu bermanfaat bagi para pewarisnya. Begitu juga dengan lagu ini, sekali lagi memberi arti bagi para pewarisnya: seluruh warga dunia.
13 Januari 2010, gempa dahsyat berkekuatan 7 skala richter mengguncang dan memporak porandakan Haiti, lebih dari 200 ribu jiwa menjadi korban, dan dunia pun berduka.
Sebagian besar warga bumi berusaha berbuat dengan yang mereka bisa untuk meringankan beban Haiti, sekecil apapun itu. Seperti tak mau kalah, lagu We Are The World pun “berbuat”, melalui 25 penyanyi kaliber dunia yang sangat peduli terhadap bencana Haiti, semisal: Usher, Celine Dion, Fergie, Will.I.Am, Adam Levine dan rapper Snoop Dogg. Barisan penyanyi paling terkenal di kolong langit ini bersama-sama menyanyikan lagu We Are The World ,dengan beberapa modifikasi pada liriknya, sebagai bentuk dukungan bagi korban gempa Haiti sekaligus mengajak orang di seluruh dunia untuk ikut membantu para korban gempa Haiti.
Salah satu cara paling efektif untuk menyentuh hati seorang manusia adalah dengan seni, salah satunya lewat lagu. Dan lagu We Are The World adalah salah satu lagu yang bisa dengan hampir sempurna menyentuh hati dan menggerakan sisi kemanusiaan seorang manusia, yang kadang sekaku dan sedingin es. Dengan rangkaian melodi harmonis yang menyayat sekaligus mendamaikan hati bagi yang mendengarnya, membungkus indah pesan mulia tentang kemanusiaan yang ingin disampaikan lewat barisan liriknya:
We are all a part of God’s great big family
And the truth, you know love is all we need
Satu pesan penting yang ingin disampaikan: bahwa kita semua di seluruh dunia adalah satu keluarga besar, semua sama sebagai ciptaanNya. Dan seakan mengingatkan kita bahwa yang paling dibutuhkan melebihi segalanya untuk terciptanya dunia yang lebih baik adalah cinta, sebuah anugerah yang dikaruniakan kepada tiap manusia di bumi tetapi kadang terlupakan dan terabaikan oleh manusia itu sendiri. Sebuah pesan yang universal, tanpa membedakan negara, warna kulit atau religi. Dengan dua bait lirik diatas lagu ini berhasil menembus batas-batas nasionalis, kesukuan, rasis dan bahkan agama, batas-batas yang sukar ditembus oleh senjata paling mematikan di dunia sekalipun.
Send them your heart. So they’ll know that someone cares
And their lives will be stronger and free
Pesan tentang indahnya berbagi dengan sesama. Karena sesungguhnya berbagi adalah salah satu hal terbaik yang bisa dilakukan seorang manusia terhadap manusia lainnya dan dirinya sendiri. Baik untuk si pemberi atau si penerima. Untuk si pengulur tangan, akan merasakan indahnya rasa empati dan kebahagiaan tak terkira ketika mengetahui bahwa tindakannya ternyata sangat berarti bagi sesamanya, bahkan menyelamatkan hidup mereka. Bagi mereka yang menerima, selain akan menerima bantuan yang mereka butuhkan yang tidak kalah berartinya adalah saat mereka menyadari ternyata banyak orang diluar sana yang peduli akan keadaan mereka yang sedang terpuruk, dan bukan tidak mungkin rasa kepedulian itulah yang akan menumbuh kembangkan kekuatan dan mempersatukan kembali puing-puing semangat hidup mereka yang ambruk untuk bangkit dari keterpurukan dan menata kembali kehidupan mereka menjadi lebih baik.
We Are The World. Satu karya seni yang universal. Sebuah warisan dunia yang abadi bahkan untuk generasi-generasi setelah ini. Lagu yang dijuluki “World Humanity Anthem”. Semoga juga bisa ‘sedikit’ menggugah hati kita semua.
*coba dengarkan dengan cermat We Are The World versi 25 Artists for Haiti. Nama Indonesia disebutkan satu kali pada akhir lagu. Bukti nyata bahwa mereka juga peduli dengan bangsa kita.
Kamis, 25 Maret 2010
ANTARA LASKAR PELANGI & ADV'06, Soundtracks yang sangat inspiratif
Laskar Pelangi. Film yang menghebohkan dan diklaim banyak orang sangat fenomenal di tahun 2008. Kisah nyata tentang perjuangan 10 orang anak-anak luar biasa di belitung yang tidak kenal kata menyerah untuk mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Film besutan Hanung Bramantyo ini benar-benar mengguncang gedung-gedung bioskop di seantero negeri. Semua pergunjingan sehari-hari tidak pernah lepas dari film yang bagi sebagian orang yang menontonnya sangatlah inspiring itu.
Saya, yang sebenernya gak terlalu hobi nonton film, mau tidak mau akhirnya teracuni juga dengan rasa penasaran yang disebarkan virus bernama “Laskar Pelangi”. Saya yang sebelumnya selalu mencibir orang-orang yang rela antri berjam-jam lamanya hanya demi lembaran tiket untuk menonton film ini, akhirnya jadi salah satu orang di antrian panjang itu.
Setelah nonton, ternyata filmnya not bad, but not good enough to me, apalagi inspiring. Ada sedikit rasa kecewa, filmnya tidak sehebat berita tentangnya yang selalu menghiasi semua media saat itu. Yang bisa menarik perhatian saya di film itu adalah: pemandangan alam belitung yang sangat indah. Dan satu hal lagi, yang menurut saya jauh lebih inspiring daripada film itu sendiri, yaitu: Soundtracknya.
Yap, lagu-lagu di film itu sangat-sangat menginspirasikan saya tentang arti teman, nilai-nilai persahabatan. Dalam hal ini yang saya rasain adalah tentang temen-temen sekelas di jurusan D3 Advertising kelas B angkatan 2006 Universitas Sebelas Maret, yang mungkin udah gak banyak lagi waktu yang kami punya untuk menikmati kebersamaan karena tahun depan adalah tahun terakhir kuliah kami (bagi yang kuliahnya lancar). Insyaallah tahun depan kami lulus, diwisuda. Yang sekaligus sebagai penanda berakhirnya kebersamaan kami selama 3 tahun terakhir.
Selama ini saya, mungkin juga temen-temen yang lain, kadang tidak menyadari indahnya kebersamaan di kampus, kadang lupa dengan pentingnya arti teman, kami terlalu sibuk menikmati dan menjalani masa-masa indah ini tanpa sadar bahwa masa indah itu akan berakhir dan tidak akan pernah bisa terulang lagi. Saya sendiri baru menyadari keindahan itu baru-baru aja, setelah keindahan itu sebentar lagi berakhir. Tapi mungkin benar yang orang bilang: sesuatu akan menjadi sangat indah ketika sudah menjadi kenangan.
Dan lagu-lagu di film Laskar Pelangi bener-bener bisa merepresentasikan perasaan saya tentang hal itu dengan sederhana, jujur, gak sok puitis tapi begitu mengena. Khususnya lagu “Laskar Pelangi” yang dinyanyikan Nidji dan “Sahabat Kecil” yang dibawakan oleh Ipang.
Lirik di kedua lagu itu sangat bisa mewakili apa yang saya rasakan. Terlepas dari musiknya, cukup liriknya aja udah cukup bikin saya jatuh cinta sama dua lagu itu. Bisa dibilang dua lagu itu “Gue Banget!”.
“menarilah dan terus tertawa, walau dunia tak seindah surga
Bersyukurlah pada Yang Kuasa cinta kita di dunia selamanya . . .”
(Reff “Laskar Pelangi”)
Potongan lirik itu menggambarkan bagaimana kami seharusnya menjalani kehidupan di masa mendatang yang sudah menanti. Kami harus senantiasa tersenyum dan menari, seperti yang selalu kami lakukan saat melalui kebersamaan selama kuliah. Walaupun mungkin kadang realita menyajikan suatu rintangan atau bahkan penderitaan yang tidak sesuai dengan “surga” yang indah dalam impian kita. Kami pun selayaknya harus bersyukur pada Sang Pemilik Hidup yang telah memberikan sahabat-sahabat terbaik dan menurunkan anugerah di tengah-tengah kami yang membuat kami semua terikat begitu erat, yaitu: Cinta. Yang tidak akan hilang disapu waktu, yang tidak akan memudar sebagaimana memori-memori indah itu terekam kekal di otak kiri (paling gak itu yang saya rasain).
“laskar pelangi takkan terikat waktu
Bebaskan mimpimu di angkasa, warnai bintang di jiwa . . .”
Laskar Pelangi mewakili kebersamaan dan keterikatan kami semua dalam satu kelas, kelas B adv’06, yang bukan sekedar tempat kami menuntut ilmu/kuliah, tapi jauh lebih dari itu, yaitu: tempat kami berkarya, mengekspresikan diri, tidak hanya belajar pelajaran-pelajaran tentang periklanan dan komunikasi tetapi juga pelajaran-pelajaran tentang hidup; cinta, kebersamaan, kesetia kawanan, berbagi, konflik dan masih sangat banyak pelajaran yang kami dapatkan di kelas ini yang tanpa sadar menempa kami untuk menjadi manusia-manusia yang lebih baik (kalo lebih pintar saya gak yakin, tapi kalo lebih kreatif itu pasti !!). Kami disatukan di kelas ini bukan hanya semata-mata karena minat edukasi yang sama, tapi juga karena perasaan saling memiliki, saling melengkapi dan sedikit campur tangan takdir dan nasib. Semuanya itu akhirnya melahirkan ikatan yang kuat dalam diri kami masing-masing yang tak akan putus sampai kapanpun. Ikatan yang bernama: Persahabatan. Rasa itu tidak hanya sebatas ketika kami menjalani masa kuliah, tapi akan tetap ada menyesaki dada kami sepanjang hidup kami nantinya. Rasa itu tak terbatas waktu. Memang waktulah yang turut serta memupuk subur rasa ini, tapi ia takkan bisa mengikatnya. Dan di kelas inilah mimpi-mimpi kami dimulai. Disinilah kami mulai merancang mimpi kami, menggantungkannya setinggi mungkin dan berusaha sesegera mungkin melesat ke atas untuk meraihnya. Mimpi-mimpi yang luar biasa indah, luar biasa tinggi dan menunggu kami untuk menggapainya.
“Tak pernah terlewatkan dan tetap mengaguminya
Kesempatan seperti ini takkan bisa dibeli”
Moment-moment yang telah terlewati, hari-hari di kampus yang dilalui bersama dan semua kenangan yang ditorehkannya dalam hati kami. Yang menyenangkan maupun yang kurang mengenakan semua menyisakan kesan. Kesan-kesan beruntutan yang membentuk sebuah alur cerita, cerita tentang persahabatan yang luar biasa bagi kami semua. Semua tersimpan rapi dalam kotak memori di salah satu sudut otak yang bila suatu saat nanti dibuka kembali akan menjadi harta yang tak ternilai harganya dan tak terbeli oleh apapun.
“bersamamu kuhabiskan waktu, senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna, sayang untuk mengakhirinya
Janganlah berganti . . . tetaplah seperti ini”
(“Sahabat Kecil” by Ipang)
Yang ingin saya sampaikan untuk sahabat-sahabat saya di kelas. Tiap detik yang dilewati, tiap langkah yang dibuat, tiap senyum yang mengembang, tiap tawa yang meledak, tiap air mata yang jatuh, tiap amarah yang meluap, tiap kisah yang dibagi, semua begitu berarti, baru gw sadari semua itu sekarang. Saya baru sadar selama ini ternyata saya menulis sebuah cerita yang sangat luar biasa dengan tinta bernama teman, di atas kertas yang bernama hati. Dan saya gak mau cerita itu sampai tamat. 3 tahun terakhir ini saya berjalan berdampingan dengan teman-teman untuk menuju satu arah yang sama. Perjalanan yang sangat mengagumkan, walaupun tidak selalu mulus, ada kerikil-kerikil tajam yang harus disingkirkan, kadang jalan tertatih bersama karena beratnya rintangan yang harus dilewati. Dan kini kami hampir sampai ke ujung jalan itu dan mencapai tujuan. Tapi setelah apa yang kami lewati bersama, saya enggan untuk jalan terus menuju ujung jalan itu, karena sesampainya di sana kami semua pun harus berpisah dan akan menempuh jalan kami masing-masing yang selanjutnya, yang mungkin lebih terjal. Saya tidak rela kalo buku itu akhirnya telah sampai di halaman terakhirnya. Kalopun harus tamat, paling gak saya bisa menyimpannya untuk suatu hari nanti saya buka lagi halaman demi halamannya yang masih akan tetap sama seperti saat pertama kali ditulis, sampai kapanpun. . . .
Tulisan ini saya dedikasikan untuk temen-temen kelas B advertising 2006-UNS
Kalian sahabat-sahabat terbaik yang pernah ada
Saya, yang sebenernya gak terlalu hobi nonton film, mau tidak mau akhirnya teracuni juga dengan rasa penasaran yang disebarkan virus bernama “Laskar Pelangi”. Saya yang sebelumnya selalu mencibir orang-orang yang rela antri berjam-jam lamanya hanya demi lembaran tiket untuk menonton film ini, akhirnya jadi salah satu orang di antrian panjang itu.
Setelah nonton, ternyata filmnya not bad, but not good enough to me, apalagi inspiring. Ada sedikit rasa kecewa, filmnya tidak sehebat berita tentangnya yang selalu menghiasi semua media saat itu. Yang bisa menarik perhatian saya di film itu adalah: pemandangan alam belitung yang sangat indah. Dan satu hal lagi, yang menurut saya jauh lebih inspiring daripada film itu sendiri, yaitu: Soundtracknya.
Yap, lagu-lagu di film itu sangat-sangat menginspirasikan saya tentang arti teman, nilai-nilai persahabatan. Dalam hal ini yang saya rasain adalah tentang temen-temen sekelas di jurusan D3 Advertising kelas B angkatan 2006 Universitas Sebelas Maret, yang mungkin udah gak banyak lagi waktu yang kami punya untuk menikmati kebersamaan karena tahun depan adalah tahun terakhir kuliah kami (bagi yang kuliahnya lancar). Insyaallah tahun depan kami lulus, diwisuda. Yang sekaligus sebagai penanda berakhirnya kebersamaan kami selama 3 tahun terakhir.
Selama ini saya, mungkin juga temen-temen yang lain, kadang tidak menyadari indahnya kebersamaan di kampus, kadang lupa dengan pentingnya arti teman, kami terlalu sibuk menikmati dan menjalani masa-masa indah ini tanpa sadar bahwa masa indah itu akan berakhir dan tidak akan pernah bisa terulang lagi. Saya sendiri baru menyadari keindahan itu baru-baru aja, setelah keindahan itu sebentar lagi berakhir. Tapi mungkin benar yang orang bilang: sesuatu akan menjadi sangat indah ketika sudah menjadi kenangan.
Dan lagu-lagu di film Laskar Pelangi bener-bener bisa merepresentasikan perasaan saya tentang hal itu dengan sederhana, jujur, gak sok puitis tapi begitu mengena. Khususnya lagu “Laskar Pelangi” yang dinyanyikan Nidji dan “Sahabat Kecil” yang dibawakan oleh Ipang.
Lirik di kedua lagu itu sangat bisa mewakili apa yang saya rasakan. Terlepas dari musiknya, cukup liriknya aja udah cukup bikin saya jatuh cinta sama dua lagu itu. Bisa dibilang dua lagu itu “Gue Banget!”.
“menarilah dan terus tertawa, walau dunia tak seindah surga
Bersyukurlah pada Yang Kuasa cinta kita di dunia selamanya . . .”
(Reff “Laskar Pelangi”)
Potongan lirik itu menggambarkan bagaimana kami seharusnya menjalani kehidupan di masa mendatang yang sudah menanti. Kami harus senantiasa tersenyum dan menari, seperti yang selalu kami lakukan saat melalui kebersamaan selama kuliah. Walaupun mungkin kadang realita menyajikan suatu rintangan atau bahkan penderitaan yang tidak sesuai dengan “surga” yang indah dalam impian kita. Kami pun selayaknya harus bersyukur pada Sang Pemilik Hidup yang telah memberikan sahabat-sahabat terbaik dan menurunkan anugerah di tengah-tengah kami yang membuat kami semua terikat begitu erat, yaitu: Cinta. Yang tidak akan hilang disapu waktu, yang tidak akan memudar sebagaimana memori-memori indah itu terekam kekal di otak kiri (paling gak itu yang saya rasain).
“laskar pelangi takkan terikat waktu
Bebaskan mimpimu di angkasa, warnai bintang di jiwa . . .”
Laskar Pelangi mewakili kebersamaan dan keterikatan kami semua dalam satu kelas, kelas B adv’06, yang bukan sekedar tempat kami menuntut ilmu/kuliah, tapi jauh lebih dari itu, yaitu: tempat kami berkarya, mengekspresikan diri, tidak hanya belajar pelajaran-pelajaran tentang periklanan dan komunikasi tetapi juga pelajaran-pelajaran tentang hidup; cinta, kebersamaan, kesetia kawanan, berbagi, konflik dan masih sangat banyak pelajaran yang kami dapatkan di kelas ini yang tanpa sadar menempa kami untuk menjadi manusia-manusia yang lebih baik (kalo lebih pintar saya gak yakin, tapi kalo lebih kreatif itu pasti !!). Kami disatukan di kelas ini bukan hanya semata-mata karena minat edukasi yang sama, tapi juga karena perasaan saling memiliki, saling melengkapi dan sedikit campur tangan takdir dan nasib. Semuanya itu akhirnya melahirkan ikatan yang kuat dalam diri kami masing-masing yang tak akan putus sampai kapanpun. Ikatan yang bernama: Persahabatan. Rasa itu tidak hanya sebatas ketika kami menjalani masa kuliah, tapi akan tetap ada menyesaki dada kami sepanjang hidup kami nantinya. Rasa itu tak terbatas waktu. Memang waktulah yang turut serta memupuk subur rasa ini, tapi ia takkan bisa mengikatnya. Dan di kelas inilah mimpi-mimpi kami dimulai. Disinilah kami mulai merancang mimpi kami, menggantungkannya setinggi mungkin dan berusaha sesegera mungkin melesat ke atas untuk meraihnya. Mimpi-mimpi yang luar biasa indah, luar biasa tinggi dan menunggu kami untuk menggapainya.
“Tak pernah terlewatkan dan tetap mengaguminya
Kesempatan seperti ini takkan bisa dibeli”
Moment-moment yang telah terlewati, hari-hari di kampus yang dilalui bersama dan semua kenangan yang ditorehkannya dalam hati kami. Yang menyenangkan maupun yang kurang mengenakan semua menyisakan kesan. Kesan-kesan beruntutan yang membentuk sebuah alur cerita, cerita tentang persahabatan yang luar biasa bagi kami semua. Semua tersimpan rapi dalam kotak memori di salah satu sudut otak yang bila suatu saat nanti dibuka kembali akan menjadi harta yang tak ternilai harganya dan tak terbeli oleh apapun.
“bersamamu kuhabiskan waktu, senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna, sayang untuk mengakhirinya
Janganlah berganti . . . tetaplah seperti ini”
(“Sahabat Kecil” by Ipang)
Yang ingin saya sampaikan untuk sahabat-sahabat saya di kelas. Tiap detik yang dilewati, tiap langkah yang dibuat, tiap senyum yang mengembang, tiap tawa yang meledak, tiap air mata yang jatuh, tiap amarah yang meluap, tiap kisah yang dibagi, semua begitu berarti, baru gw sadari semua itu sekarang. Saya baru sadar selama ini ternyata saya menulis sebuah cerita yang sangat luar biasa dengan tinta bernama teman, di atas kertas yang bernama hati. Dan saya gak mau cerita itu sampai tamat. 3 tahun terakhir ini saya berjalan berdampingan dengan teman-teman untuk menuju satu arah yang sama. Perjalanan yang sangat mengagumkan, walaupun tidak selalu mulus, ada kerikil-kerikil tajam yang harus disingkirkan, kadang jalan tertatih bersama karena beratnya rintangan yang harus dilewati. Dan kini kami hampir sampai ke ujung jalan itu dan mencapai tujuan. Tapi setelah apa yang kami lewati bersama, saya enggan untuk jalan terus menuju ujung jalan itu, karena sesampainya di sana kami semua pun harus berpisah dan akan menempuh jalan kami masing-masing yang selanjutnya, yang mungkin lebih terjal. Saya tidak rela kalo buku itu akhirnya telah sampai di halaman terakhirnya. Kalopun harus tamat, paling gak saya bisa menyimpannya untuk suatu hari nanti saya buka lagi halaman demi halamannya yang masih akan tetap sama seperti saat pertama kali ditulis, sampai kapanpun. . . .
Tulisan ini saya dedikasikan untuk temen-temen kelas B advertising 2006-UNS
Kalian sahabat-sahabat terbaik yang pernah ada
Langganan:
Postingan (Atom)
