Kamis, 25 Maret 2010

ANTARA LASKAR PELANGI & ADV'06, Soundtracks yang sangat inspiratif

Laskar Pelangi. Film yang menghebohkan dan diklaim banyak orang sangat fenomenal di tahun 2008. Kisah nyata tentang perjuangan 10 orang anak-anak luar biasa di belitung yang tidak kenal kata menyerah untuk mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Film besutan Hanung Bramantyo ini benar-benar mengguncang gedung-gedung bioskop di seantero negeri. Semua pergunjingan sehari-hari tidak pernah lepas dari film yang bagi sebagian orang yang menontonnya sangatlah inspiring itu.
Saya, yang sebenernya gak terlalu hobi nonton film, mau tidak mau akhirnya teracuni juga dengan rasa penasaran yang disebarkan virus bernama “Laskar Pelangi”. Saya yang sebelumnya selalu mencibir orang-orang yang rela antri berjam-jam lamanya hanya demi lembaran tiket untuk menonton film ini, akhirnya jadi salah satu orang di antrian panjang itu.
Setelah nonton, ternyata filmnya not bad, but not good enough to me, apalagi inspiring. Ada sedikit rasa kecewa, filmnya tidak sehebat berita tentangnya yang selalu menghiasi semua media saat itu. Yang bisa menarik perhatian saya di film itu adalah: pemandangan alam belitung yang sangat indah. Dan satu hal lagi, yang menurut saya jauh lebih inspiring daripada film itu sendiri, yaitu: Soundtracknya.
Yap, lagu-lagu di film itu sangat-sangat menginspirasikan saya tentang arti teman, nilai-nilai persahabatan. Dalam hal ini yang saya rasain adalah tentang temen-temen sekelas di jurusan D3 Advertising kelas B angkatan 2006 Universitas Sebelas Maret, yang mungkin udah gak banyak lagi waktu yang kami punya untuk menikmati kebersamaan karena tahun depan adalah tahun terakhir kuliah kami (bagi yang kuliahnya lancar). Insyaallah tahun depan kami lulus, diwisuda. Yang sekaligus sebagai penanda berakhirnya kebersamaan kami selama 3 tahun terakhir.
Selama ini saya, mungkin juga temen-temen yang lain, kadang tidak menyadari indahnya kebersamaan di kampus, kadang lupa dengan pentingnya arti teman, kami terlalu sibuk menikmati dan menjalani masa-masa indah ini tanpa sadar bahwa masa indah itu akan berakhir dan tidak akan pernah bisa terulang lagi. Saya sendiri baru menyadari keindahan itu baru-baru aja, setelah keindahan itu sebentar lagi berakhir. Tapi mungkin benar yang orang bilang: sesuatu akan menjadi sangat indah ketika sudah menjadi kenangan.

Dan lagu-lagu di film Laskar Pelangi bener-bener bisa merepresentasikan perasaan saya tentang hal itu dengan sederhana, jujur, gak sok puitis tapi begitu mengena. Khususnya lagu “Laskar Pelangi” yang dinyanyikan Nidji dan “Sahabat Kecil” yang dibawakan oleh Ipang.
Lirik di kedua lagu itu sangat bisa mewakili apa yang saya rasakan. Terlepas dari musiknya, cukup liriknya aja udah cukup bikin saya jatuh cinta sama dua lagu itu. Bisa dibilang dua lagu itu “Gue Banget!”.


“menarilah dan terus tertawa, walau dunia tak seindah surga
Bersyukurlah pada Yang Kuasa cinta kita di dunia selamanya . . .”
(Reff “Laskar Pelangi”)
Potongan lirik itu menggambarkan bagaimana kami seharusnya menjalani kehidupan di masa mendatang yang sudah menanti. Kami harus senantiasa tersenyum dan menari, seperti yang selalu kami lakukan saat melalui kebersamaan selama kuliah. Walaupun mungkin kadang realita menyajikan suatu rintangan atau bahkan penderitaan yang tidak sesuai dengan “surga” yang indah dalam impian kita. Kami pun selayaknya harus bersyukur pada Sang Pemilik Hidup yang telah memberikan sahabat-sahabat terbaik dan menurunkan anugerah di tengah-tengah kami yang membuat kami semua terikat begitu erat, yaitu: Cinta. Yang tidak akan hilang disapu waktu, yang tidak akan memudar sebagaimana memori-memori indah itu terekam kekal di otak kiri (paling gak itu yang saya rasain).



“laskar pelangi takkan terikat waktu
Bebaskan mimpimu di angkasa, warnai bintang di jiwa . . .”
Laskar Pelangi mewakili kebersamaan dan keterikatan kami semua dalam satu kelas, kelas B adv’06, yang bukan sekedar tempat kami menuntut ilmu/kuliah, tapi jauh lebih dari itu, yaitu: tempat kami berkarya, mengekspresikan diri, tidak hanya belajar pelajaran-pelajaran tentang periklanan dan komunikasi tetapi juga pelajaran-pelajaran tentang hidup; cinta, kebersamaan, kesetia kawanan, berbagi, konflik dan masih sangat banyak pelajaran yang kami dapatkan di kelas ini yang tanpa sadar menempa kami untuk menjadi manusia-manusia yang lebih baik (kalo lebih pintar saya gak yakin, tapi kalo lebih kreatif itu pasti !!). Kami disatukan di kelas ini bukan hanya semata-mata karena minat edukasi yang sama, tapi juga karena perasaan saling memiliki, saling melengkapi dan sedikit campur tangan takdir dan nasib. Semuanya itu akhirnya melahirkan ikatan yang kuat dalam diri kami masing-masing yang tak akan putus sampai kapanpun. Ikatan yang bernama: Persahabatan. Rasa itu tidak hanya sebatas ketika kami menjalani masa kuliah, tapi akan tetap ada menyesaki dada kami sepanjang hidup kami nantinya. Rasa itu tak terbatas waktu. Memang waktulah yang turut serta memupuk subur rasa ini, tapi ia takkan bisa mengikatnya. Dan di kelas inilah mimpi-mimpi kami dimulai. Disinilah kami mulai merancang mimpi kami, menggantungkannya setinggi mungkin dan berusaha sesegera mungkin melesat ke atas untuk meraihnya. Mimpi-mimpi yang luar biasa indah, luar biasa tinggi dan menunggu kami untuk menggapainya.

“Tak pernah terlewatkan dan tetap mengaguminya
Kesempatan seperti ini takkan bisa dibeli”
Moment-moment yang telah terlewati, hari-hari di kampus yang dilalui bersama dan semua kenangan yang ditorehkannya dalam hati kami. Yang menyenangkan maupun yang kurang mengenakan semua menyisakan kesan. Kesan-kesan beruntutan yang membentuk sebuah alur cerita, cerita tentang persahabatan yang luar biasa bagi kami semua. Semua tersimpan rapi dalam kotak memori di salah satu sudut otak yang bila suatu saat nanti dibuka kembali akan menjadi harta yang tak ternilai harganya dan tak terbeli oleh apapun.


“bersamamu kuhabiskan waktu, senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna, sayang untuk mengakhirinya
Janganlah berganti . . . tetaplah seperti ini”
(“Sahabat Kecil” by Ipang)
Yang ingin saya sampaikan untuk sahabat-sahabat saya di kelas. Tiap detik yang dilewati, tiap langkah yang dibuat, tiap senyum yang mengembang, tiap tawa yang meledak, tiap air mata yang jatuh, tiap amarah yang meluap, tiap kisah yang dibagi, semua begitu berarti, baru gw sadari semua itu sekarang. Saya baru sadar selama ini ternyata saya menulis sebuah cerita yang sangat luar biasa dengan tinta bernama teman, di atas kertas yang bernama hati. Dan saya gak mau cerita itu sampai tamat. 3 tahun terakhir ini saya berjalan berdampingan dengan teman-teman untuk menuju satu arah yang sama. Perjalanan yang sangat mengagumkan, walaupun tidak selalu mulus, ada kerikil-kerikil tajam yang harus disingkirkan, kadang jalan tertatih bersama karena beratnya rintangan yang harus dilewati. Dan kini kami hampir sampai ke ujung jalan itu dan mencapai tujuan. Tapi setelah apa yang kami lewati bersama, saya enggan untuk jalan terus menuju ujung jalan itu, karena sesampainya di sana kami semua pun harus berpisah dan akan menempuh jalan kami masing-masing yang selanjutnya, yang mungkin lebih terjal. Saya tidak rela kalo buku itu akhirnya telah sampai di halaman terakhirnya. Kalopun harus tamat, paling gak saya bisa menyimpannya untuk suatu hari nanti saya buka lagi halaman demi halamannya yang masih akan tetap sama seperti saat pertama kali ditulis, sampai kapanpun. . . .



Tulisan ini saya dedikasikan untuk temen-temen kelas B advertising 2006-UNS
Kalian sahabat-sahabat terbaik yang pernah ada

Tidak ada komentar:

Posting Komentar